Rabu, 11 Desember 2013

When You Leave Us..


7 tahun telah berlalu...

Di bawah langit yang mendung, ku menatap nama yang terukir pada batu nisan. Terukir nama ayahku lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematiannya. Ayahku meninggal karena serangan jantung, itu yang dikatakan oleh dokter. Menurut orang awam, ayahku terkena penyakit angin duduk. Yah, jika dikaitkan dengan serangan jantung, angin duduk memang menyerang jantung.
Sejak kepergiannya, keluargaku semakin kacau. Aku semakin menyalahkan diriku sebagai penyebab kematian ayahku.

7 tahun yang lalu..

Saat itu, siang hari ketika aku pulang dari sekolah. Aku melihat ayah sedang muntah-muntah di teras rumah. Segera aku menghampirinya.
                “Bapak kenapa? Kok muntah-muntah?”, tanyaku panik
                “uhuk uhuk, hueeek”, bapak terus muntah sambil memegang tempat sampah yang
      menampung muntahnya itu.
                “ibu dimana? Kok ngga ada orang?”, aku melihat keadaan rumah yang sepi
                “ibu sedang ke tempat bibi Sany”, kata ayah disela-sela muntahnya

 Aku segera ganti baju dan pergi ke rumah bibi Sany, rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Tadinya aku mau jalan kaki ke rumah bibi, tapi akhirnya aku memutuskan untuk naik angkot. Teringat kalau bibi Sany sedang sakit, penyakit mag-nya kambuh lumayan parah. Ibu pergi kesana untuk merawat dan memberikan kunyit kental untuk diminum oleh bibi. Sesampainya aku di depan rumah bibi, ternyata ibu sedang ada di depan pagar berpamitan untuk pulang. Ibu kaget melihat aku yang datang menyusulnya. Aku menceritakan kondisi ayah, segera kami pun pulang ke rumah.

Sesampainya dirumah, ayah sudah tidak muntah-muntah. Dia sedang duduk dibangku teras rumah. Ibu menanyakan keadaan ayah dan mengurusi ayah. Karena udah ada ibu, aku pun mulai tenang dan melakukan aktifitasku. Malam hari, kami menonton tv bersama. Kami bercanda bersama, ayah yang mulai jahil dan tertawa seolah lupa kalau tadi dia habis muntah-muntah. Saat itu aku terasa sangat lelah, aku pun mulai pergi ke kamar untuk tidur lebih dulu dari yang lain. Saat aku masuk ke kamar, aku mendengar suara kakak yang baru pulang dari bekerja. ayah yang tadinya duduk di dalam rumah, kini pindah duduk di bangku teras. Rumahku sangat kecil 5m x 9m, hanya ada 4 ruang : ruang tamu, ruang dapur dan 2 kamar tidur. Aku sekamar dengan kakakku, sementara abangku tidur di ruang tamu, ayah dan ibu dikamar lainnya. Dinding kamarku tembus langsung ke teras, jadi aku bisa mendengar atau melihat keadaan di depan rumah dengan sangat jelas.
Didalam kamar aku mulai berdoa rutinitas sebelum tidur. Doaku sama seperti doa dimalam-malam sebelumnya, namun ada doa yang aku panjatkan malam ini. Aku berdoa untuk ayahku, aku tidak tahu apa yang sedang diderita olehnya. Aku berdoa untuk kesehatannya,
                “Ya Tuhan, berkatilah ayah saya. Tadi dia muntah-muntah, saya ngga tahu kenapa dia
      muntah-muntah seperti itu. Saya meminta kesembuhan untuk ayah saya. Berikanlah yang
      terbaik bagiMu, ya Tuhan.”

Ketika aku memanjatkan doaku itu, aku mendengar suara aneh seperti suara orang sedang mendengkur. Aku berhenti sejenak masih di dalam doa, aku mencoba untuk mendengarkan lebih jelas lagi. Suara itu semakin kencang,
                “Eh, ayah kenapa?!” kata kakakku yang terdengar nada suara yang kaget.
                “Ibu, ibu, ayah kenapa?!” suara kakak membuatku tersentak membuka mata.

Aku langsung keluar kamar secepat kilat. Di teras aku melihat punggung ibu dan kakak yang sedang menghadap ke arah ayah. Aku tidak bisa melihat ayah saat itu. Tiba-tiba ibu menyuruhku untuk memanggil pamanku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Segera aku lari menuju rumah pamanku itu. Sepanjang aku berlari, pikiranku mulai berkecamuk rasanya ingin menangis. Mataku mulai berkaca-kaca. Sesampai di depan rumah paman, aku segera membuka gerbang dan langsung masuk ke dalam rumah paman lewat pintu samping. Aku melihat paman dan beserta orang-orang yang ada di dalam rumah itu – aku tidak memperhatikan wajah siapa aja yang ada disana- mendadak kaget melihat aku yang tersenggal-sengal datang malam-malam. Dengan langkah goyah aku menghampiri paman.
                “a-ayah..a..yah..” kataku lirih. Jantungku berdegup dengan kencang.
                “kenapa ayah, Ta?” tanya paman cemas
                “ngga tau..ngga tau ayah kenapa..” aku tidak tahu harus berkata apa
                “ayo kerumah sekarang!” kataku langsung pergi dari rumah itu

Aku bersama dengan paman dan bersama yang lain entah siapa saja, pergi ke rumahku. Sesampai di depan rumah aku melihat tetangga ramai di gang, sementara di rumah hanya ada kakak. Ternyata ayah sudah digotong oleh tetangga untuk dibawa ke rumah sakit. Terlihat paman sedang menelepon. Lima belas menit kemudian aku dan kakak menyusul ke rumah sakit bersama dengan paman dan yang lainnya (aku masih belum memperhatikan siapa saja yang dari tadi bersama dengan paman).
Di rumah sakit, aku dan kakak langsung masuk ke ruang Emergency. Aku menghampiri ruangan Emergency yang penuh dengan alat-alat dan juga dokter. Dari jauh aku melihat ayah berbaring di atas kasur menggunakan oksigen, disampingnya ada ibu yang sedang berdiri menangis dan berteriak-teriak, sementara itu aku melihat dokter memegang alat pengejut jantung. Digesekan kedua alat pengejut jantung ditangannya, lalu ditempelkan ke tubuh ayah, tubuh ayah terguncang. Dilakukan adegan itu berkali-kali, aku melihat garis yang berjalan di alat deteksi denyut nadi bergerak tidak stabil. Kakak yang tidak sanggup melihat adegan itu dia pergi kebelakang ruangan, aku pun mengikutinya. Kami duduk ditangga, entah ruangan apa ini. Kakak mulai menangis, dia menutup matanya dengan kedua tangannya. Aku terdiam, pikiranku sangat kosong saat ini. Suasana hati terasa tidak enak ditambah dengan kehadiran dokter yang masuk ke tempat kami.
                “Ayah kalian terserang penyakit jantung”, kata dokter itu sambil menyerahkan kertas
                 kepadaku.
                “maaf ayah kalian tidak bisa kami selamatkan”, kata dokter itu lagi sambil pergi
      meninggalkan ruangan.

AYAAHH!! Teriakku dalam hati. Kakiku terasa sangat lemas, dadaku terasa sangat sesak. Aku bersandar ke tangga, akhirnya tangisku pun mulai meledak.

Setelah menangis sejadi-jadinya, aku masuk ke dalam ruangan tempat ayah berbaring. Aku melihat sudah banyak orang yang berkumpul, kebanyakan orang-orang gereja. Aku menghampiri ayah yang berbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Wajahnya yang pucat, seolah meyakinkan kalau ayah sudah tidak bernyawa. Aku meraba tubuhnya, memegang tangannya dan memeluk tubuhnya. Aku menutup mata dan menangis dalam diam.
Ayah..jangan pergi..jangan tinggalkan keluarga ini..jangan tinggalkan aku..aku masih membutuhkan ayah..keluarga ini sangat membutuhkan ayah...jangan tinggalkan ibu sendiri... ayah..maafkan aku..jangan pergi..

Aku membuka mata dan melepaskan pelukanku. Aku menatap wajah ayah, melihat mata ayah yang belum tertutup. Aku meraba wajahnya dari ujung kepala sampai dagu, supaya menutup matanya. Tapi mata ayah sama sekali tidak bisa tertutup. Tiba-tiba aku mendengar suara kakak yang kesal sambil memegang hp.
                “Teleponnya ngga diangkat-angkat! Tu orang kemana sih?! Ngga tahu apa ayahnya udah
       meninggal?!”, kata kakak kesal sambil terus mencoba menelpon.

Aku baru sadar kalau abang tidak ada, pantas mata ayah belum bisa tertutup. Ternyata ayah masih menunggu kedatangan abang. Aku keluar dari tempat ayah berbaring. Sepanjang jalan aku keluar, banyak orang yang mengucapkan belasungkawa. Aku tidak terlalu memperhatikannya dan terus berjalan ke ruang tunggu. Aku duduk terdiam. Aku melihat saudara-sadara yang mulai datang satu persatu lewat pintu yang ada di sebelah kiriku. Aku bersandar, menutup mata memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini. Tak lama, aku mendengar suara begitu ramai di dalam ruangan. Aku berdiri dan melihat dari jauh, ternyata abang sudah datang. Aku melihat mata ayah sudah tertutup.

Abang keluar dan menuju ruang tunggu, tiba-tiba dari belakang kakak menarik tangan abang menuju pojok ruang tunggu. Aku melihat mereka berdua, terutama ke kakak yang sedang terlihat sangat kesal. Aku melihat kakak penuh emosi, dia memaki-maki abang. Orang-orang memperhatikan mereka berdua, bibi pun datang untuk melerai mereka. Aku hanya bisa duduk terdiam melihat mereka berdua. Dalam hatiku aku menyalahkan diriku sendiri.

Di tahun ini tidak hanya ayah yang telah pergi, kakek dan nenek telah meninggal di bulan Februari lalu. Kakek meninggal terlebih dahulu, karena sakit prostat yang dideritanya. Kasus kakek sama seperti ayah. Kakek meninggal disaat saya sedang berdoa dan telah mengucapkan doa untuk kesembuhan kakek. Sementara nenek meninggal seminggu setelah kakek.

Ini semua salah saya.. Saya yang membuat ayah meninggal! Semua karena doa saya!!
Seharusya bukan ayah yang pergi, seharusnya saya yang pergi....



Akhir-akhir ini aku sering pergi berziarah ke tempat ayah. Ketika aku sedang sedih, kacau dan merasa hancur, aku selalu pergi ke pemakaman ayah. Di pemakaman aku membersihkan dan merapihkan rumput-rumput yang sudah mulai terlihat lebat, itu jika pembersih makam tidak datang untuk membersihkannya. Selain itu aku juga menceritakan semua yang terjadi akhir-akhir ini tentang keadaan di rumah dan keadaan keluarga. Setiap aku pulang ziarah, suasana hatiku membaik seolah aku mendapatkan energi yang baru dari ayah.

Saat ini saya sudah memasuki semester 6, semester yang sangat berat karena keadaan kampus dan rumah yang semakin kacau. Keadaan kampus sangat kacau, dikarenakan Kaprodi (Kepala Prodi) atau yang lebih dikenal dengan Kajur (Kepala Jurusan) yang sangat menyebalkan. Beliau selalu melakukan hal suka-sukanya. Yang beliau pikirkan hanya misi terselubungnya dan dirinya sendiri, tanpa memikirkan keadaan mahasiswanya. Aku sangat benci dengan dia sejak di semester 2, saat itu beliau belum menjadi Kaprodi. Kakak angkatanku di 2008 yang seharusnya sudah lulus dan kakak angkatan 2009 yang seharusnya sudah siap untuk kelulusannya di semester depan, semuanya kandas hanya karena Kaprodi yang sangat hebat itu. Dosen yang ada di kampus pun bukan lagi dosen yang berkompeten, sisanya hanya orang yang jadi pengikut beliau saja! Terasa sekali satu per satu dosen yang sangat aku senangi dan memang hebat dalam bidangnya, pergi meninggalkan kampus terutama jurusanku.

Selain keadaan di kampus, keadaan di rumah tak kalah menyakitka. Tingkah abang yang semakin berulah yang membuat aku dan kakak sangat kesal sekali kepadanya. Sampai pada akhirnya terjadilah keributan yang luar biasa dengan adegan kekerasann fisik, sampai-sampai tetangga pun ikut melerai pertikaian kami. Aku bersyukur memiliki tubuh yang besar dan memiliki bidang badan yang lebar. Mungkin diluar sana aku sering diejek-ejek karena memiliki bobot badan yang  tidak ideal. Tapi untuk saat ini aku sangat bersyukur sekali. Dengan tubuhku yang kuat ini, aku mampu menghadang abang yang mulai mendorong ibu dan kakak. Tubuh ibu dan kakak yang kecil dengan mudahnya terjungkal di bodi oleh abang, aku pun ngga kalah membalas dorongan ke tubuhnya. Aku sama sekali tidak pernah takut untuk menghadapi dia, walaupun badan dia sebesar gorila. Seandainya dia melakukan tinjuan atau pukulan, tidak segan-segan aku mengambil benda tajam yang ada didekatku untuk ku tusuk atau kurobekkan wajahnya. Untung tetangga datang melerai dan menarik abang keluar. Aku mulai memaki-makinya sampai aku hilang kendali. Aku sangat senang jika melakukan keributan. Berteriak memaki dan memukul apa saja yang ada didekatku adalah kesukaanku, karena disaat itu aku memiliki power yang lebih untuk melakukan tindak kriminal.

Sejak keributan itu, kakak memutuskan untuk ngekost dan tidak lagi tinggal dirumah. Aku kesal bukan main, padahal dari dulu aku yang duluan bilang untuk ngekos jika udah masuk semester besar. Entah kenapa orang-orang dirumah begitu egois, tidak pernah ada yang perduli dengan kondisiku. Akhirnya kakak pun ngekost, ibu yang sudah kehabisan cara untuk menghentikan kakak pun mulai putus asa. Dimulailah hari-hari tanpa kakak yang tinggal dirumah, ibu mulai uring-uringan yang dikerjakan hanyalah bermain games yang ada di hp nya.

Setiap hari, pagi-siang-sore-malam yang dilakukan ibu hanyalah bermain games yang ada di hp nya. Setiap hari aku selalu makan diluar rumah, karena ibu tidak memasak. Aku tidak habis pikir, ternyata memang benar kalau anak yang dianggap ada di rumah ini hanya kakak saja. Saat kakak masih tinggal dirumah, ibu selalu memasak atau memperdulikan sarapan pagi untuk kakak. Ketika kakak libur, ibu tidak membuat sarapan sementara aku masih saja tetap pergi pagi untuk kuliah. Dari dulu sampai sekarang, aku mulai terbiasa tidak sarapan pagi. Dan sekarang jadi lebih terlihat lagi. Tidak ada kakak dirumah, berarti tidak ada makanan yang dimasak, hanya ada indomie yang harus aku masak sendiri setiap harinya.

Tak lupa dengan sikap luar biasa menyebalkan, abang melakukan hal suka-sukanya. Meninggalkan piring dan gelas kotor habis dipakai di atas meja, mengotori rumah tanpa peduli membersihkannya. Sungguh-sungguh menjadi tuan rumah yang menganggap punya pembatu dirumahnya. Emosiku tidak tertahankan jika melihat ulahnya setiap hari seperti itu.

Dikampus... Dirumah.. semuanya sama saja!

Aku mulai capek dengan kondisi diriku. Aku muak dengan keadaan di kampus, aku muak dengan keadaan di rumah. Rasanya aku ingin mati! Seharusnya bukan ayah yang pergi.. tapi saya yang harusnya mati! Ayah masih sangat dibutuhkan di rumah ini. Sementara saya hanya bisa menyusahkan saja!

Aku tidak tahan dikampus, aku pun mulai bolos dan memang berniat untuk menghentikan perkuliahanku. Sudah hampir 3 bulan aku tidak mengikuti perkuliahan. Aku pergi pagi dari rumah dan pulang malam sampai dirumah. Yup! Rumah bukan lagi tempat yang nyaman buatku, rumah seperti neraka buatku! Aku lebih suka berada di rumah malam hari, karena sampai rumah aku bisa langsung tidur, dan kembali pergi dari rumah pagi-pagi. Selama 3 bulan itu aku pergi kemanapun yang aku mau. Aku lebih sering menghabiskan waktu di pondok kelapa, jalan-jalan ke mall, ke gramedia, dan bermain games di Fun World. Aku pergi sendiri, kadang aku pergi bersama dengan temanku.

Aku merasa senang karena tidak memikirkan beban di otakku. Namun setelah 3 bulan berlalu, aku mulai capek juga kalau tiap hari kaya gini terus. Aku sudah tidak berminat untuk kuliah, aku ingin sekali bekerja. Sejak kakak tidak tinggal dirumah, keadaan ekonomi rumah semakin kacau. Kontrakan tidak ada yang membayarnya lagi, sementara gajiku dari gereja tidak cukup. Dulu aku dan kakak sudah melakukan perundingan dengan ibu. Aku dan kakak ngekost di jakarta, sementara ibu tinggal di Sumatera bersama dengan kakaknya. Tapi ibu tidak mau, dia memikirkan anak laki-lakinya harus tinggal dengan siapa. Ibu tidak pernah mendukung kalau kami pergi meninggalkan anak laki-laki semata wayangnya itu. Aku kesal, laki-laki pengganti ayah seharusnya bisa membawa kami dan menafkahi kami. Tapi ini tidak, malah menyebalkan dan menyusahkan saja!

Aku jadi teringat dengan kata-katanya di saat hari kematian ayah. Dia bilang akan menjadi pengganti ayah dan menolak bantuan dari saudara-saudara. Dengan pedenya dia bilang mampu untuk menghidupkan keluarga. Selain dia, aku juga kesal dengan saudara-saudara terutama adik-adik dari ayah yang bilang akan membantu keluarga, khususnya untuk menyekolahkan aku sampai lulus kuliah. Nyatanya sampai detik ini aku tidak menerima bantuan itu. Untung saja saat aku SMA aku mendapatkan bantuan dana dari pemerintah yang aku minta dari wali kelasku. Dan untuk kuliah ini aku mendapatkan beasiswa penuh sampai lulus kalau nilai ipk ku minimal 3. Yaahh.. seperti itulah. Aku juga tidak akan mau meminta bantuan mereka. Lebih baik aku mati ketimbang menjadi pengemis meminta-minta kepada mereka yang selalu memandang remeh kepada keluarga ayah.

Jumat, 22 November 2013

Aku Bertanya pada Tuhan

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak kaya… Lalu Dia menunjukkan seorang pria dengan banyak harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memiliki siapapun untuk berbagi.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak cantik… Lalu Dia menunjukkan seorang wanita dengan kecantikan yang melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yang buruk.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan aku menjadi tua… Lalu Dia menunjukkan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaan mobil.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak memiliki rumah besar… Lalu Dia menunjukkan sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang, baru saja diusir dari rumah yang kecil sesak…dan terpaksa tinggal dijalanan.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus bekerja… Lalu Dia menunjukkan seorang pria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun, karena tidak memiliki kesempatan untuk belajar membaca.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak menjadi orang terkenal… Lalu Dia menunjukkan seseorang yang memiliki banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak memiliki harta lagi.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pintar… Lalu Dia menunjukkan seorang yang terlahir jenius, tetapi dipenjara karena menyalahgunakan kepintarannya untuk kejahatan.

Aku tahu sekarang betapa besar Ia mengasihiku… Dan itu cukup bagiku

Ijinkan aku menciummu bu.. Walau kini kau tak bersamaku....

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.

Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.

Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.

Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya.

Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

(by : Daniel Herianto Purba)

Warna Persahabatan


Di suatu masa warna-warna di dunia mulai bertengkar. Semua menganggap dirinyalah yang terbaik yang paling penting, yang paling bermanfaat dan yang paling disukai.

HIJAU berkata: “Jelas akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan harapan. Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan. Tanpa aku, semua hewan akan mati. Lihatlah ke pedesaan, aku ad
alah warna mayoritas…”

BIRU menginterupsi: “Kamu hanya berpikir tentang bumi, pertimbangkanlah langit dan samudra luas. Airlah yang menjadi dasar kehidupan dan awan mengambil kekuatan dari kedalaman lautan. Langit memberikan ruang dan kedamaian dan ketenangan. Tanpa kedamaian, kamu semua tidak akan menjadi apa-apa.”

KUNING cekikikan: “Kalian semua serius amat sih? Aku membawa tawa, kesenangan dan kehangatan bagi dunia. Matahari berwarna kuning, dan bintang-bintang berwarna kuning. Setiap kali kau melihat bunga matahari, seluruh dunia mulai tersenyum. Tanpa aku, dunia tidak ada kesenangan.”

ORANYE menyusul dengan meniupkan trompetnya: “Aku adalah warna kesehatan dan kekuatan. Aku jarang, tetapi aku berharga karena aku mengisi kebutuhan kehidupan manusia. Aku membawa vitamin-vitamin terpenting. Pikirkanlah wortel, labu, jeruk, mangga dan pepaya. Aku tidak ada dimana-mana setiap saat, tetapi aku mengisi langit saat fajar atau saat matahari terbenam. Keindahanku begitu menakjubkan hingga tak seorangpun dari kalian akan terbetik di pikiran orang.”

MERAH tidak bisa diam lebih lama dan berteriak: “Aku adalah Pemimpin kalian. Aku adalah darah-darah kehidupan! Aku adalah warna bahaya dan keberanian. Aku berani untuk bertempur demi suatu kausa. Aku membawa api ke dalam darah. Tanpa aku, bumi akan kosong laksana bulan. Aku adalah warna mawar, hasrat dan cinta.”

UNGU bangkit dan berdiri setinggi-tinggi nya ia mampu. Ia memang tinggi dan berbicara dengan keangkuhan. “Aku adalah warna kerajaan dan kekuasaan. Raja, Pemimpin dan para bangsawan memilih aku sebagai pertanda otoritas dan kebijaksanaan. Tidak seorangpun menentangku. Mereka mendengarkan dan menuruti kehendakku.”

Akhirnya NILA berbicara lebih pelan dari yang lainnya, namun dengan kekuatan niat yang sama: “Pikirkanlah tentang aku. Aku warna diam. Kalian jarang memperhatikan aku, namun tanpaku kalian semua menjadi dangkal. Aku merepresentasikan pemikiran dan refleksi, matahari terbenam dan kedalaman laut. Kalian membutuhkan aku untuk keseimbangan dan kontras, untuk doa dan ketentraman batin.”

Jadi, semua warna terus menyombongkan diri, masing-masing yakin akan superioritas dirinya.

Perdebatan mereka menjadi semakin keras. Tiba-tiba, sinar halilitar melintas membutakan. Guruh menggelegar. Hujan mulai turun tanpa ampun. Warna-warna bersedeku, bersama ketakutan, berdekatan satu sama lain mencari ketenangan.

Di tengah suara gemuruh, hujan berbicara: “HAI WARNA-WARNA, kalian bertengkar satu sama lain, masing-masing ingin mendominasi yang lain. Tidakkah kalian tahu bahwa kalian masing-masing diciptakan untuk tujuan khusus, unik dan berbeda? Berpegangan tanganlah dan mendekatlah kepadaku!”

Menuruti perintah, warna-warna berpegangan tangan mendekati hujan, yang kemudian berkata: “Mulai sekarang, setiap kali hujan mengguyur, masing-masing dari kalian akan membusurkan diri sepanjang langit bagai busur warna sebagai pengingat bahwa kalian semua dapat hidup bersama dalam kedamaian.”

Teman-teman yang terkasih, kita mengatahui bahwa segala perbedaan yang ada jika bisa dipersatukan dengan damai dan kasih, akan menciptakan keindahan tersendiri, tidak tercerai berai, dan tidak akan akan dendam atau iri dengki. Jikau kita bisa bersikap seperti cerita warna warni di atas, alangkah indahnya dunia ini, tak ada lagi perang, tak ada lagi pertikaian, tak ada lagi ri dan dengki, dan semua manusia yang tercipta dari Tuhan ini semua sama derajatnya, semua saling menghargai dan menghormati. Bukan dari orang lain yang harus memulai, tapi marilah kita pribadi mulai melaksanakan semua hal indah di atas. Semoga setiap hari kita bisa menjadi pribadi yang semakin baik dan bijak. Amin

Mengapa Wanita Menangis ?

Suatu hari, seorang pria berdoa dalam keadaan marah dan emosi. Ia sebal pada pasangannya yang seringkali menangis dan memanfaatkan air mata di setiap perdebatannya. Ia bosan. Sungguh bosan.

Tak mau terlibat dalam emosi yang negatif, iapun sujud dan berdoa, meminta pertolongan pada Tuhan.
"Tuhan, mengapa sih wanita sering menangis? Aku bosan dan jenuh melihat dan mendengarnya," keluh pria itu.

Jawab Tuhan kepadanya:

"Karena wanita itu unik. AKU menciptakannya tidak sama seperti kamu. Ia adalah makhluk yang istimewa.

KU kuatkan bahunya untuk menjaga anak- anakmu kelak

KU lembutkan hatinya untuk memberimu rasa aman

KU kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia

KU teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah

KU beri naluri untuk tetap menyayangi walau dikhianati dan disakiti oleh orang yang disayangi

KU hembuskan kasih sayang agar ia bisa mencurahimu dengan perhatian

KU buat matanya lentik karena ia akan menjadi jendela kedamaian

KU buat senyumnya merekah seperti mahkota bunga untuk membuatmu tetap mengingat indahnya dunia

KU buat tangannya terampil untuk menjagamu agar tak pernah kekurangan

Tapi jika suatu saat ia menangis...

Itu karena AKU memberikannya air mata untuk membasuh luka batin dan memberikan kekuatan yang baru. Bukanlah sebuah tanda kelemahan dan kekalahan."

Pria itupun tertegun sejenak. Diambilnya langkah bergegas, dipeluk dan diusapnya air mata di pipi orang yang dicintainya. "Aku akan membantumu menghapus luka batin itu..."

Lelaki hebat bukan lelaki yang memiliki harta dan ketampanan, tetapi lelaki yang bisa mengerti akan perasaan wanita yang dicintainya. ♥

(by : Daniel Herianto Purba)

Surat dari Ayah dan Ibu

Anakku...
Ketika aku sudah menjadi tua,aku berharap kamu mau mengerti,dan memiliki kesabaran untukku.saat aku memecahkan piring,atau menumpahkan sup di meja karena penglihatanku yg sudah berkurang,aku berharap kamu tidak membentakku.orang yg sudah tua lebih sensitif,selalu menyalahkan diri sendiri saat kamu membentaknya.ketika pendengaranku memburuk,dan aku tidak dapat mendengar apa yang kamu katakan,kuharap kamu tidak menyebutku tuli.tolong ulangi lagi apa yg kamu katakan,atau kamu bisa menuliskannya di kertas.aku minta maaf, anakku....aku sudah semakin tua,ketika lututku sudah mulai lemah,aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku berdiri.seperti bagaimana aku biasa membantumu berdiri saat kamu masih kecil,belajar bagaimana caranya berjalan.tolong bertahanlah denganku,ketika aku terus mengulangi perkataanku seperti sebuah rekaman rusak,kuharap kamu akan tetap mau mendengarkanku.tolong jangan mengejek diriku,atau bosan mendengarkanku.ingatkah kamu saat kamu masih kecil dan kamu menginginkan sebuah balon?kamu terus merengek rengek sampai kamu mendapatkan yg kamu inginkan,juga tolong maafkan dengan bauku,aku tercium bau seperti orang tua.tolong jangan paksa aku untuk mandi,tubuhku sudah lemah.orang tua mudah sekali sakit saat kedinginan.ingatkah kamu saat kamu masih kecil?aku biasa mengejar2mu karena kamu tidak mau mandi.aku berharap kamu tetap sabar padaku,ketika aku selalu mengambek,itu semua adalah bagian dari proses menjadi tua.kamu akan mengerti saat kamu tua nanti.dan jika kamu memiliki waktu luang,kuharap kita bisa mengobrol2,walaupun hanya beberapa menit saja.aku selalu melakukan semuanya sendiri seumur hidupku,dan tidak memiliki seorangpun untuk kuajak bicara.aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu,bahkan jika kamu tidak tertarik dengan ceritaku,tolong sediakanlah sedikit waktu untukku.ingatkah kamu saat kamu masih kecil?aku biasa mendengarkan ceritamu tentang mainanmu.ketika waktunya nanti telah tiba,waktu saat aku sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.kuharap kamu mau bersabar untuk merawatku.AKU MINTA MAAF jika aku tiba2 membuat ranjang basah atau membuat kekacauan,aku harap kamu tetap sabar merawatku hingga saat2 terakhir hidupku.lagipula, aku tidak akan bisa hidup lebih lama lagi.ketika saat kematianku nanti tiba,kuharap kamu memegang erat tanganku,memberikanku kekuatan saat menjelang ajalku.dan jangan khawatir......saat akhirnya aku bertemu dengan sang pencipta,aku akan berbisik di telingaNYA,agar DIA memberkatimu,karena kamu mencintai IBUmu dan AYAHmu.terimakasih banyak atas perhatianmu,Kami mencintaimu.

Dengan penuh cinta,Ayah dan Ibu

(by : Daniel Herianto Purba)

Selasa, 19 November 2013

Nahkoda

Suatu saat aku sedang menikmati senja dalam perahu keselamatanku yang sedang berlabuh. Kulihat Tuhan di ruang pengemudi, Ia menatapku dan berkata, "Lepaskanlah tambatan tali itu, dan biarkan Aku membawa engkau ke seberang. Sebab bukan rancangan-Ku engkau tertambat disini.."

Gelisah dan kuatir aku menjawab, "Tuhan, bukankah lebih baik aku tetap di sini? Aku tidak akan melihat taufan dan badai dan aku dapat kembali ke darat kapan pun aku mau."
Dengan lembut, Ia memegang tanganku, menatap mataku dan berkata, "Jika engkau tidak mengalami taufan dan badai, engkau tidak akan pernah melihat bagaimana Aku mengatasi semua itu. Engkau juga tidak akan pernah melihat, bahwa Aku berkuasa atas semua itu."

Dalam pergumulanku, aku memandangi tali yang mengikat perahu.. Di tali itu, ku lihat ada rasa kuatir akan Kesehatan ,Keuangan, Pekerjaan, Kehidupan, dan Masa Depanku.
Dalam hatiku aku bertanya, "Tahukah Ia apa yang aku inginkan? Mengertikah Ia apa yang aku rindukan?"
Tuhan memelukku dan berkata lembut, "Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang kau inginkan, bahkan mungkin kebalikannya yang akan engkau dapatkan.. Tapi maukah kau percaya, bahwa rancangan-Ku adalah rancangan damai sejahtera, dan masa depanmu adalah masa depan yang penuh harapan?"

Ia memeluk dan menangis bersamaku.. Lalu dengan berat aku melepas tali perahuku.., ku lepaskan semua rasa kuatir itu dari hatiku.., ku taruh hak atas masa depanku di tangan-Nya, aku tidak tahu bagaimana nanti masa depanku, tapi aku percaya Ia sudah ada di sana..

Sambil menangis aku menatap-Nya dan berkata, "Jadilah nahkoda dalam hidupku dan marilah kita berlayar Bersama..".


Godspeed ..

(by : Oktaviany Sipayung)